PRESENTASI PARALEL, CIPTAKAN DISKUSI LEBIH HIDUP
Suara murid melakukan presentasi terdengar hampir bersamaan dari enam sudut ruang kelas XII MIPA 5 dan XII MIPA 6 SMAS Kristen Harapan pada Jumat, 24 Juli 2026. Murid tidak lagi berdiri di depan kelas dengan seluruh perhatian tertuju kepadanya, sebaliknya, puluhan murid aktif berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil, saling menjelaskan konsep, bertanya, hingga bertukar gagasan secara serentak.
Inilah suasana pembelajaran Informatika yang berbeda. Pada materi "Informatika dan Masa Depan", guru Informatika, Ibu Ni Ketut Yuli Santosa, S.Si., M.Ling., menerapkan model presentasi paralel (parallel presentation) sebagai alternatif pembelajaran yang lebih aktif, efisien, dan berpusat pada murid. Model pembelajaran tersebut terinspirasi dari pengalaman beliau saat mengikuti Program Bina Talenta Indonesia (BTI) Bidang STEM di Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung beberapa waktu yang lalu. Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan berbagai strategi pembelajaran kolaboratif, salah satunya presentasi paralel, selain metode Gallery Walk, yang mendorong setiap peserta menjadi pembelajar sekaligus fasilitator bagi teman-temannya. Model presentasi ini, menarik karena semua peserta memperoleh kesempatan untuk berbicara dan berbagi pengetahuan dalam waktu yang relatif singkat, sehingga Ibu Yuli mencoba mengadaptasinya ke pembelajaran Informatika di kelas.
Pembelajaran diawali dengan membagi murid ke dalam enam kelompok. Setiap kelompok kemudian mendistribusikan anggotanya untuk mendalami enam topik utama yang sedang dipelajari, yaitu: Revolusi Industri 4.0; Big Data; Cloud Computing; Internet of Things (IoT); Artificial Intelligence (AI); dan Coding. Setiap murid bertanggung jawab mempelajari satu topik secara mandiri melalui berbagai sumber belajar, untuk selanjutnya siap menjadi narasumber bagi teman satu kelompoknya.
Ketika sesi presentasi dimulai, suasana kelas langsung berubah menjadi ruang belajar yang dinamis. Pada saat yang sama, enam murid yang membahas topik Big Data berdiri di kelompoknya masing-masing dan secara bersamaan mempresentasikan hasil temuannya. Setelah sekitar delapan menit, giliran topik berikutnya dimulai. Murid yang mendalami Cloud Computing, IoT, Artificial Intelligence, hingga Coding bergantian menyampaikan materi secara serempak di seluruh kelompok. Tidak berhenti di situ, pola presentasi kemudian divariasikan, dengan murid berpindah ke kelompok lain untuk menyampaikan materi temuan mereka. Model tersebut membuat proses berbagi pengetahuan berlangsung secara paralel, simultan, dan kolaboratif, sehingga seluruh murid berperan aktif baik sebagai penyaji maupun sebagai peserta diskusi.
Selama presentasi berlangsung, Ibu Yuli berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lainnya untuk mengamati jalannya diskusi, mendengarkan cara murid menjelaskan konsep, sekaligus mencatat berbagai hal yang perlu diperkuat. Sesekali beliau mengajukan pertanyaan lanjutan untuk menggali pemahaman murid, memberikan klarifikasi apabila terdapat konsep yang kurang tepat, serta mendorong peserta lain agar aktif memberikan tanggapan.
Setelah seluruh sesi selesai, pembelajaran ditutup dengan diskusi kelas. Pada tahap ini, guru memberikan umpan balik terhadap setiap topik sekaligus meluruskan konsep-konsep yang masih berpotensi menimbulkan miskonsepsi sehingga seluruh murid memperoleh pemahaman yang utuh mengenai perkembangan teknologi digital.
Salah satu alasan diterapkannya model presentasi paralel adalah efisiensi waktu. Dengan alokasi hanya dua jam pelajaran, seluruh murid tetap memperoleh kesempatan untuk mempresentasikan hasil belajarnya, sesuatu yang sulit dicapai apabila menggunakan model presentasi klasikal. Namun, manfaat yang dirasakan ternyata tidak hanya soal efisiensi. Melalui refleksi pembelajaran yang dilakukan di akhir kegiatan, murid mengaku lebih nyaman menyampaikan pendapat dalam kelompok kecil dibandingkan berbicara di depan seluruh kelas. Suasana diskusi yang lebih santai membuat mereka lebih percaya diri, lebih berani bertanya, dan lebih aktif bertukar ide dengan teman-temannya.
Model ini juga mendorong setiap murid untuk benar-benar memahami materi yang dipelajarinya karena mereka memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan kembali kepada orang lain. Dengan demikian, proses belajar tidak berhenti pada membaca informasi, tetapi berkembang menjadi aktivitas mengolah, mengomunikasikan, dan mengonstruksi pengetahuan secara bersama-sama.
Di balik berbagai kelebihannya, Ibu Yuli juga mencatat adanya tantangan dalam penerapan model ini. Karena presentasi berlangsung secara bersamaan di seluruh kelompok, guru tidak dapat mendengarkan pemaparan setiap murid secara utuh. Perhatian harus dibagi dengan berpindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya sehingga proses observasi terhadap seluruh presentasi menjadi terbatas. Meski demikian, tantangan tersebut dinilai sebanding dengan meningkatnya keterlibatan murid selama proses pembelajaran.
Lebih dari sekadar menyampaikan materi tentang Revolusi Industri 4.0, Big Data, Cloud Computing, Internet of Things, Artificial Intelligence, dan Coding, pembelajaran ini juga melatih kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, serta kepercayaan diri murid, kompetensi yang menjadi fondasi penting untuk menghadapi dunia yang terus berkembang di era digital. Perubahan strategi mengajar yang sederhana, tetapi dirancang dengan baik, mampu menghadirkan suasana belajar yang lebih hidup dan bermakna.




