BELAJAR DARI SEKITAR: PEMBELAJARAN PROYEK KELAS XII, EKSPLOR DESA WISATA PENGLIPURAN
Pembelajaran tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas. Hal inilah yang diwujudkan oleh SMAS Kristen Harapan Denpasar melalui Pembelajaran Proyek bertema “Bhinneka Tunggal Ika, Kekayaan di Sekitarku” bagi murid kelas XII, yang dilaksanakan pada 8–12 Desember 2025. Proyek ini dirancang untuk mengajak murid memahami nilai kebinekaan secara nyata melalui pengalaman langsung di lingkungan sekitar.
Salah satu rangkaian kegiatan yang paling menarik adalah eksplorasi ke Desa Wisata Penglipuran yang dilaksanakan pada Rabu, 10 Desember 2025. Kunjungan ini menjadi ruang belajar kontekstual bagi murid untuk melihat, merasakan, dan memahami kekayaan budaya Indonesia secara langsung, tidak hanya melalui buku teks.
Pembelajaran proyek ini dipersiapkan secara matang oleh tim dengan Ibu Ni Luh Putu Ayu Desy Pratiwi, S.Pd. sebagai koordinator. Secara keseluruhan, proyek dirancang dalam 8 (delapan) aktivitas utama, mulai dari pemahaman konsep Bhinneka Tunggal Ika dan urgensinya bagi Indonesia, pengenalan kekayaan budaya di sekitar murid, pendalaman budaya lokal yang akan dikunjungi, hingga penyusunan lembar observasi sebagai bagian dari aksi proyek.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke Desa Wisata Penglipuran, pengolahan hasil observasi, penyelenggaraan pameran bertajuk “Kekayaan Budaya di Sekitarku”, serta diakhiri dengan sesi refleksi, evaluasi, dan tindak lanjut pembelajaran.
Seluruh informasi dan teknis pelaksanaan proyek disampaikan secara resmi pada Ibadah Senin Kelas XII, 8 Desember 2025. Penjelasan disampaikan langsung oleh koordinator proyek, Ibu Desy dan diperkuat oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Ibu Ni Ketut Yuli Santosa, S.Si., M.Ling. guna memastikan seluruh murid memahami alur kegiatan, tujuan pembelajaran proyek, serta tata tertib selama kunjungan lapangan.
Pada hari pelaksanaan kunjungan, rombongan bertolak dari Denpasar sekitar pukul 08.15 WITA dengan menggunakan 7 (tujuh) bus. Perjalanan berlangsung lancar dan setibanya di Desa Penglipuran, kegiatan diawali dengan foto bersama per kelas. Selanjutnya, murid melakukan eksplorasi sesuai kelompok yang telah ditentukan sebelumnya.
Dengan tertib, murid mengunjungi rumah-rumah warga dan melakukan wawancara langsung berdasarkan lembar observasi yang telah disusun. Interaksi ini memberi ruang bagi murid untuk belajar tentang nilai budaya, kearifan lokal, serta kehidupan masyarakat secara autentik. Selain itu, murid juga berbelanja kuliner khas Penglipuran dan membeli suvenir hasil karya warga sebagai bentuk dukungan terhadap ekonomi lokal.
Eksplorasi dilanjutkan dengan menelusuri kawasan hutan bambu, salah satu ikon alam Desa Penglipuran yang mencerminkan harmonisasi manusia dan lingkungan. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan tertib, aman, dan penuh antusiasme. Rombongan kemudian kembali ke sekolah sekitar pukul 13.15 WITA dan tiba dengan selamat.
Melalui pembelajaran proyek ini, murid tidak hanya memahami konsep Bhinneka Tunggal Ika secara teoritis, tetapi juga menghayatinya melalui pengalaman nyata. Proyek ini menjadi bukti bahwa pembelajaran yang bermakna lahir dari keterhubungan antara kelas, lingkungan, dan kehidupan sosial budaya, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa keberagaman adalah kekayaan yang patut dijaga bersama.




