Bakar Semangat 17-an Murid SMAS Kristen Harapan Gelorakan Kemerdekaan Lewat Aksi Totalitas
Kemerdekaan yang dirasakan hari ini bukanlah hadiah gratis, melainkan buah dari tetesan keringat, darah, dan perjuangan gigih para pahlawan bangsa. Untuk mengenang jasa serta melanjutkan semangat pantang menyerah mereka, lingkungan sekolah SMAS Kristen Harapan Denpasar dipenuhi atmosfer meriah lewat rangkaian perlombaan menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia. Melalui kegiatan ini, para siswa tidak hanya bersuka cita, tetapi juga membuktikan bahwa jiwa perjuangan pahlawan tetap hidup dalam bentuk kreativitas dan gotong royong.
Sebuah dukungan dan apresiasi datang dari para tenaga pendidik, salah satunya Ibu Ria Mulya Putri Purba, S.Si. Teol., guru Agama Kristen. Ia menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan lomba tahun ini memiliki dampak yang sangat positif bagi perkembangan karakter siswa. "Kegiatan lomba-lomba yang dibuat hari ini memang tujuannya untuk membangun semangat nasionalisme, selain juga untuk kebersamaan. Terlihat sekali mereka semua bekerja sama, menjaga kebersihan, hingga mengatur dekorasi. Jiwa kebersamaan dan solidaritanya benar-benar kelihatan dari kerja sama mereka," ungkap Bu Ria.
Ia juga menambahkan bahwa antusiasme siswa sudah terasa bahkan jauh sebelum hari pelaksanaan. Para siswa aktif berdiskusi, menentukan konsep ide, hingga berbelanja kebutuhan lomba bersama-sama dengan penuh rasa gembira. Keseruan dan totalitas di lapangan turut dirasakan langsung oleh para peserta, seperti yang ditunjukkan oleh kelas 10-4. Gina dan Tara, perwakilan dari kelas 10-4, menceritakan bagaimana seluruh rekan sekelasnya bahu-membahu demi memberikan yang terbaik.
"Kelas kita benar-benar kompak dan totalitas. Kita sampai lembur mengerjakan semuanya, jadi tidak ada yang nganggur," tutur Gina dan Tara. Meski sempat mengkhawatirkan hasil akhir, kelas 10.4 berhasil mengatasinya dengan pembagian tugas yang terstruktur serta musyawarah yang mufakat.
Keseruan perayaan 17-an tidak berhenti pada kekompakan di dalam kelas saja, melainkan berlanjut ke area perlombaan tradisional yang paling ditunggu-tunggu, yakni Lomba Makan Kerupuk. Perlombaan ini tidak sekadar hiburan pemancing tawa, tetapi juga
menjadi sarana menumbuhkan jiwa kemerdekaan.
Menurut Ni Made Dewi Astuti, S.Si., salah satu guru yang tegas dan berkharisma, semangat dalam mengikuti pertandingan merupakan salah satu bentuk dari nilai kemerdekaan. Melalui kegiatan ini, siswa-siswi belajar berkolaborasi dan menyusun strategi demi meraih kemenangan, yang selaras dengan perjuangan pahlawan merebut kemerdekaan RI.
Sistem kompetisi menerapkan babak gugur 5 ronde untuk menyaring 5 tim terbaik menuju babak final demi memperebutkan Juara I, II, dan III. Berbeda dari biasanya di mana kerupuk hanya digantung tali, kali ini peserta harus bermain berpasangan menggunakan alat pancing sederhana sembari tetap duduk di kursi dengan batas waktu 3 menit.
Keunikan inovasi ini diakui langsung oleh Made Neo Anagata (XI MIPA 3). Ia mengungkapkan bahwa mekanisme menggunakan alat pancing berpasangan ini sangat menarik dan menjadi wadah interaktif untuk membangun kebersamaan, sportivitas, serta persahabatan antar siswa.
Puncak kemeriahan semakin menyedot perhatian saat Lomba Parade HUT RI ke-81 digelar sebagai panggung penyaluran kreativitas yang sarat akan pesan sejarah dan kebudayaan Indonesia. Setiap kelas tampil memukau dengan konsep cerita dan seni pertunjukannya masing-masing. Salah satu peserta sekaligus juara Parade, Hana Kasih Christian (XII MIPA 2), mengaku sangat berkesan karena parade ini membawanya mengingat kembali kejayaan pahlawan lewat pertunjukan drama pahlawan Indonesia melawan penjajah Jepang.
“Senang banget. Kesannya itu kayak benar-benar membuat kita mengingat kejayaan pahlawan. Untuk siswa lainnya biar bisa mengingat usaha-usaha pahlawan, karena pasti ada sejarah dan tokoh yang mulai dilupakan. Makanya kita tampilkan drama,” jelas Hana.]Ia merasa bangga karena persiapan matang sejak H-1 terbayarkan tuntas dengan gelar juara, seraya berpesan agar para siswa dapat memberikan yang terbaik sebagai generasi emas Indonesia.
Semangat mengenalkan sejarah juga ditunjukkan oleh Sysia (XII IPS 1) yang bersama timnya mengangkat sosok Nyi Ageng Serang untuk menunjukkan bahwa peran perempuan dalam peperangan sangatlah besar. Rekan sekelasnya, Anita (XII IPS 1), menambahkan bahwa meski persiapan cukup singkat dan sempat membuatnya deg-degan, kerja sama tim yang solid mampu menyajikan pertunjukan yang lancar. Anita berpesan agar generasi muda terus mengharumkan nama bangsa di mana pun berada. Melengkapi sudut pandang tersebut, Karin (XII IPS 1) menilai parade ini sukses menjadi wadah mengedukasi sejarah dan kebudayaan Indonesia lewat ragam pakaian adat yang dikenakan para peserta.
Melalui kemeriahan seluruh rangkaian acara, mulai dari persiapan hias kelas, ketangkasan lomba tradisional, hingga megahnya parade sejarah serta siswa-siswi tidak hanya bertanding mencari pemenang, tetapi juga merawat ingatan atas jasa para pahlawan dan memperkokoh rasa bangga sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
(Demas,Novi,Nadhia,Sanya,Alexa,Anugrah,Wanisa,Gwen dan Razel)
Click here for the documentation




