Perjuangan Tiga Srikandi SMAS Harapan Denpasar di Paskibraka Kota: Menguras Tenaga demi Merah Putih
Suara tegap derap langkah kaki menyatu dengan keheningan Lapangan Lumintang saat bendera Merah Putih berkibar sempurna di langit Denpasar pada Peringatan HUT ke-81 RI, 17 Agustus 2026. Di balik penampilan memukau dan presisi gerakan tersebut, tersimpan deretan cerita perjuangan, cucuran keringat, hingga rasa rindu rumah yang mendalam dari para anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Denpasar, termasuk para siswi berprestasi asal SMAS Harapan Denpasar.
Tahapan perekrutan diawali dari seleksi administrasi dan pengumpulan berkas, dilanjutkan dengan tes Pancasila, Wawasan Kebangsaan, serta Inteligensia Umum. Setelah itu, para calon Paskibraka harus melalui tes kesehatan intensif mulai dari pemeriksaan mata, tinggi dan berat badan, hingga varises. Pada tahap parade, postur dan kelurusan gerakan tubuh dicek secara rinci, disusul tes Peraturan Baris-Berbaris, serta tes kesamaptaan yang menguras fisik lewat lari, shuttle run, push-up, sit-up, dan back-up. Rangkaian seleksi ini ditutup dengan wawancara kebangsaan serta unjuk minat dan bakat sebelum mereka dinyatakan lolos menuju pemusatan latihan.
Setelah dinyatakan lolos, penggalan perjuangan fisik dan mental sesungguhnya baru dimulai di camp pelatihan Azana Boutique Hotel Denpasar. Setiap hari, para anggota wajib bangun sekitar pukul 04.00 hingga 04.45 WITA untuk mengikuti senam pagi jam 05.00 WITA. Waktu untuk Mandi, Cuci, Kakus (MCK), hingga sarapan pagi dieksekusi sangat ketat, yakni hanya berkisar 10 hingga 15 menit.
Penggemblengan fisik dan mental dimulai sejak pemusatan latihan di Lapangan Lumintang dan Taman Kota Sewaka Dharma. Setiap hari, para peserta sudah harus bangun sekitar pukul 04.00 hingga 04.45 WITA untuk mengikuti senam pagi jam 05.00 WITA. Waktu untuk MCK hingga sarapan pagi pun dieksekusi sangat ketat, yaitu hanya berkisar 10 hingga 15 menit. Setelah persiapan di camp, mereka langsung diboyong ke Lapangan Lumintang dan Taman Kota Sewaka Dharma untuk menjalani latihan intensif selama 8 hingga 10 jam, dari pukul 07.00 hingga 16.00 WITA.
Menu latihan fisik diawali dengan lari mengelilingi lapangan sebanyak 6 putaran penuh, dilanjutkan dengan sprint, push-up, sit-up, back-up, hingga plank. Setelah itu, latihan berlanjut ke pemantapan formasi peraturan baris-berbaris, pengibaran dan penurunan bendera, lalu ditutup dengan evaluasi dan kelas materi malam hingga pukul 21.00 WITA. Tentu saja, proses berat ini menghadirkan berbagai tekanan yang menguji batas kemampuan diri. Mengenai tantangan terberat selama latihan, Fitri Wulandari menuturkan, “Jelas banyak banget, mulai dari rumah yang jauh, capek karena latihan dan lain-lain.” Senada dengan hal tersebut, Ni Made Arya Diva Laksita juga mengungkapkan kesulitan yang dirasakannya, “Kesulitan yang saya rasakan yaitu saya harus berjauhan dari rumah dan teman teman saya. Terkadang saya merasa rindu dengan rumah dan teman teman.”
Meski harus menembus rasa lelah dan homesick, seluruh perjuangan tersebut berbuah manis saat tugas pengibaran bendera pada pukul 07.30–08.00 WITA serta penurunan pada pukul 15.00 WITA di Lapangan Lumintang berjalan sukses tanpa cela. Mengabaikan semua rasa lelah, kebersamaan selama masa gemblengan meninggalkan kesan mendalam bagi para anggota. Terkait kesan dan pesan selama mengikuti kegiatan ini, Ni Kadek Aureli Saskya Kirana menyampaikan, “Kesan dan pesan yang paling berkesan bagi saya selama mengikuti kegiatan ini, walau prosesnya tidak selalu mudah, kami selalu saling mendukung dan menguatkan bersama hingga kami bisa menjalankan tugas dengan lancar. Pengalaman ini menjadi momen yang sangat berharga di hidup saya.”
Rasa bangga, lega, dan haru kini menggantikan setiap tetes keringat yang jatuh di lapangan. Pengalaman ditempa menjadi Paskibraka Kota Denpasar bukan sekadar tentang mengibarkan bendera, melainkan sebuah pelajaran hidup berharga tentang kedisiplinan, persahabatan, dan perjuangan yang tak akan pernah terlupakan.
Penulis : Deswita, Razel, Early




